Selasa, 04 November 2014

AL – ISLAM Dan KEMUHAMMADIYAHAN “Kepribadian Muhammadiyah”

A.    Latar Belakang
Sesungguhnya Kepribadian Muhammadiyah adalah sebuah rumusan yang menguraikan tentang jati diri, apa dan siapa itu muhammadiyah. KH. Faqih Usman pada saat itu hanyalah mengkosntantir, mengidharkan apa yang telah ada. Jadi bukan merupakan hal-hal yang baru dalam Muhammadiyah. Adapun mereka yang menganggap bahwa Kepribadian Muhammadiyah sebagai perkara baru, hanyalah karena mereka mendapati Muhammadiyah dalam keadaan yang tidak sebenarnya.
KH. Faqih Usman sebagai seorang yang telah sejak lama berkecimpung dalam muhammadiyah, sudah memahami benar apa seseungguhnya sifat-sifat khusus/ciri-ciri khas dari Muhammadiyah itu. Karena itu, kepada mereka yang tidak berlaku sewajarnya dalam muhammadiyah, beliaupun dapat memahami dengan jelas.
Yang dirasakan benar oleh almarhum bahwa Muhammadiyah itu sebagai Gerakan Islam berdasar Islam, menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bukan dengan jalan politik, bukan dengan jalan ketatanegaraan, melainkan dengan melalui pembentukan masyarakat, tanpa memperdulikan bagaimana struktur politik yang menguasainya. Zaman penjajahan Belanda, zaman militerisme Jepang, dan sampai dengan zaman kemerdekaan Republik Indonesia. Muhammadiyah tidak buta politik, Muhammadiyah tidak takut politik. Tapi Muhammadiyah bukan partai politik. Muhammadiyah tidak mencapuri soal-soal politik; tetapi apabila soal-soal politik memasuki Muhammadiyah, ataupun soal-soal politik itu mendesak-desak urusan agama Islam maka terpaksalah Muhammadiyah bertindak menurut kemampuanya dan menurut irama dan nada Muhammadiyah.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka secara rinci permasalahan yang   akan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan akhir sebagai berikut:
  1. Sejarah perumusan Kepribadian Muhammadiyah
  2. Fungsi kepribadian Muhammadiyah
  3. Isi kepribadian Muhammadiyah
  4. Penjelasan keperibadian Muhammadiyah
  5. Kepada siapa kepribadian Muhammadiyah kita berikan
  6. Cara memberikan atau menuntunkan
Setelah mendiskusikan tema ini, maka kita dapat memperoleh beberapa tujuan diantaranya kita dapat mengetahui dan memahami Kepribadian Muhammadiyah.


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Sejarah Perumusan Kepribadian Muhammadiyah

Kepribadian muhhamadiyah merupakan salah satu dari beberapa rumusan resmi persyarikatan yang disahkan oleh Muktamar Muhammadiyah ke-35 tahun 1962 di Jakarta (Muktamar setengah abad). Gagasana perumusan Kepribadian Muhammadiyah ini timbul pada waktu Muhammadiyah dipimpin oleh Bapak Kolonel H.M. Yunus Anis, ialah pada periode 1959-1962. “Kepribadian Muhammadiyah” ini semula berasal dari uraian Bapak H. Faqih Usman, sewaktu beliau memberikan uraian dalam suatu latihan yang diadakan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pada saat itu almarhum KH. Faqih Usman menjelaskan bahasan yang berjudul: “Apa sih Muhammadiyah itu?” Kemudian oleh Pimpinan Pusat dimusyawarahkan bersama-sama Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur (HM. Saleh Ibrahim), Jawa Tengah (R. Darsono), dan Jawa Barat (H. Adang Afandi). Sesudah itu disempurnakan oleh suatu Tim yang antara lain, terdiri dari: KH. Moh.Wardan, Prof. KH. Farid Ma’ruf, M. Djarnawi Hadikusuma, M. Djindar Tamimy; kemudian turut membahas pula Prof.H. Kasman Singodimejo SH. di samping pembawa prakarsa sendiri KH. Faqih Usman. Setelah urusan itu sudah agak sempurna, maka diketengahkan dalam Sidang Tanwir menjelang Muktamar ke 35. Dan di Muktamar ke-35 itulah “Kepribadian Muhammadiyah” disahkan setelah mengalami usul-usul penyempurnaan. Dengan demikian maka rumusan “Kepribadian Muhammadiyah” ini adalah merupakan hasil yang telah disempurnakan dalam Muktamar ke-35 pada akhir periode pimpinan HM. Yunus Anis.

  1. Fungsi Kepribadian Muhammadiyah

Fungsi kepribadian muhammadiyah adalah untuk menjadi landasan, pedoman dan pegangan para pemimpin, aktifis dan anggota muhammadiyah dalam menjalankan roda organisasi, gerakan dan amal usaha agar tidak terombang ambing oleh pengaruh luar dan tetap istiqomah kepada cita cita dan perjuangan muhammadiyah serta cara memperjuangkan cita citanya. Artinya tidak terpengaruh oleh paham paham agama lain, ideology ideology lain, aliran aliran agama lain, isme-isme, gerakan gerakan politik, gaya hidup, kebudayaan dan peradaban non muslim serta cara berfikir non muslim (sekuler, liberal dsb)

  1. Isi Kepribadian Muhammadiyah

1.      Apakah Muhammadiyah itu?
Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan gerakan Islam. Maksud geraknya ialah, “Da’wah Islam & amar ma'ruf nahi munkar” yang ditujukan kepada dua bidang: perseorangan dan masyarakat.
Da’wah dan amar ma'ruf nahi munkar pada bidang yang pertama terbagi kepada dua golongan:
  1. kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran-ajaran Islam yang asli murni
  2. kepada yang belum Islam bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam.
Adapun da’wah dan amar ma'ruf nahi munkar yang kedua, ialah kepada masyarakat, bersifat perbaikan, bimbingan dan peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan bersama dengan bermusyawarah atas dasar taqwa dan mengharap keridlaan Allah semata.
Dengan melaksanakan da’wah dan amar ma'ruf nahi munkar dengan caranya masing-masing yang sesuai, Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tujuannya, ialah “terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

2.      Dasar amal-usahan Muhammadiyah
Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dimana kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan luas merata, Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu:
  1. Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah dan taat kepada Allah.
  2. Hidup manusia bermasyarakat.
  3. Mematuhi ajaran-ajaran Islam dengan keyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
  4. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan.
  5. Ittiba' kepada langkah perjuangan Nabi Muhammad saw.
  6. Melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi.

3.      Pedoman Amal Usaha dan Perjuangan Muhammadiyah
Menilik dasar prinsip tersebut di atas, maka apapun yang diusahakan dan bagaimanapun cara perjuangan Muhammadiyah untuk mencapai tujuan tunggalnya harus berpedoman: “Berpegang teguh akan ajaran Allah dan Rasul-Nya, bergerak membangun disegenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah SWT.

  1. Sifat-sifat Muhammadiyah

Muhammadiyah memiliki sifat sifat yang merupakan nilai nilai dasar untuk melakukan gerakan. Untuk itu, setiap warga muhammadiyah wajib memelihara sifat sifatnya sebagaimana hasil Muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta tahun 1962. Adapun sifat-siffat muhammadiyah sebagai berikut:
  1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.
  2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
  3. Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam.
  4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
  5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta falsafah Negara yang sah.
  6. Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.
  7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ialah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam.
  8. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan ajaran Islam serta membela kepentingannya.
  9. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah.
  10. Bersifat adil serta korektif kedalam dan keluar dengan bijaksana.

  1. Penjelasan Kepribadian Muhammadiyah

a. Apakah Muhammadiyah itu?
Apa yang dimaksud judul seperti ini tidak lain dimaksutkan untuk mengungkapkan sesungguh-sungguhnya tentang hakikat apa dan siapa Muhammadiyah itu, untuk mengungkap jati diri  Muhammadiyah yang sebenar-benarnya.

Hakikat Muhammadiyah
Hakikat kepribadian Muhammadiyah adalah wajah dan wijhah-nya persyarikatan Muhammadiyah. Wajah tersebut mencerminkan predikat yang melekat kuat sebagai asy- Syakhsiyah atau jati dirinya secara utuh. Tiga predikat yang disebut dalam Muhammadiyah adalah Muhammadiyah sebagai gerakan islam, Dakwah dan Tajdid.

Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yaitu suatu gerakan yang lahir karena motivasi Islam., bergerak semata-mata karena di ilhami oleh aspirasi Islam, dan dalam keseluruhan gerakannya adalah dalam rangka  aktualisasi ajaran Islam yang bersumber pada ajaran Al Qur’an dan As Sunnah as Shahihah.


b. Dasar Amal Usaha dan Perjuangan Muhammadiyah
 
Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju tujuan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dimana kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan luas-merata, Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu:
  1. Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah, dan taat kepada Allah.
Dalam melaksanakan segala gerakan dan kegiatan maka tauhid dan tawakal kepada allah harus senantiasa dijadikan landasan dasarnya, dengan maksud semata mata untuk beribadah serta mentaati semua perintah dan larangannya
  1. Hidup manusia bermasyarakat.
Muhammadiyah adalah satu factor yang kuat dalam perkembangan masyarakat serta warga muhammadiyah merupakan anggota masyarakat yang tidak diam, akan tetapi bergerak maju, aktif dan membangun.
  1. Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan berkeyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia akhirat.
Muhammadiyah berkeyakinan bahwa tidak ada dasar landasan yang dapat membahagiakan manusia di dunia kecuali dengan dasar al-quran dan al-hadits yang akan membawa kebahagiaan manusia yang hakiki di akhirat kelak.
  1. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan.
Setelah muhammadiyah dapat berdiri tegak dan berjalan di atas landasan seperti di atas, berulah kuat menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran islam serta mampu mengatasiberbagai rintangan, hambatan, tantangan dan halangan yang ada.
  1. Ittiba' kepada langkah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.
Ittiba’ atau mengikuti jejak langkah perjuangan rasulluah SAW adalah wajib menjadi syarat yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap muslim, dan sesungguhnya dalam rangka menggerakkan umat islam kea rah ittiba’ itulah hakikat muhammadiyah didirikan.
  1. Melancarkan amal usaha dan perjuangannya dengan ketertiban organisasi.
Muhammadiyah beramal dan berjuang dengan berorganisasi yang didasarkan atas musyawarah bersama. Menghimpun dan mendidik kader pempinan, mengaktifkan gerak anggota, menentukan peraturan peraturan untuk mencapai hasil yang jauh lebih besar dan lebih dekat menanggulangi berbagai rintangan dan halangan karena bergerak dengan menggunakan organisasi.

  1. Pedoman Amal Usaha dan Perjuangan Muhammadiyah

Hukum dan ajaran agama islam wajib dipegang teguh dan dijunjung tinggi. Tujuan yang baik harus di capai dengan cara yang baik pula. Cita cita yang diridlai allah harus dicapai dengan cara serta usaha yang dirilai Allah SWT.

Rasulullah bersabda
siapa menyuruh berbuat baik hendaknya dengan cara yang baik pula”

Muhammadiyah berjuang tidak sekedar mencari berhasilnya tujuan semata, tetapi di samping itu juga harus dengan maksud beribadah, berbati kepada Allah dan berjasa kepada manusia. Muhammadiyah berjuang dengan keyakinan bahwa kemenangan ada di tangan Allah, dan itu akan dianugrahkan kepada siapa bersungguh sungguh berjuang dengan cara yang adil dan jujur.
d. Sifat Muhammadiyah

  1. Perdamaian sesama manusia dan kesejahteraan masyarakat adalah tujuan dari perjuangan dan amal usaha Muhammadiyah. Perdamaian berarti saling harga-menghargai, hormat-menghormati, bantu membantu tiadak saling berebut, taidak saling mencela dan mendengki, tidak saling memaksa faham dan kehendak, bersikap toleran satu sama lain meskipun paham dan pendirian berlainan. Oleh karena itu Muhammadiyah tidak boleh mencela dan mendengki golongan lain; dan harus tabah dan sabar menghadapi celaan dan kedengkian dengan tidak mengabaikan hak membela diri di mana perlu yang harus dilakukan secara baik tanpa dipengaruhi oleh dendam.
  2. Muhammadiyah ditempat manapun juga dan dalam keadaan bagaimana pun juga tidak boleh memencilkan diri, mengisolsasi dirinya dari keramaian perkembangan masyarakat. Ajaran Islam telah mengatur persaudaraan orang islam dengan emnentukan hak dan kewajibans etiap muslim terhadap sesamanya. Apa yang emnjadi hak seseorang merupakan kewajiban orang lain (ukhuwah Islamiah. Hak dan kewajiban tersebut ialah, bantu membantu, tolong menolong, bela membela, kasih mengasihi, ajar mengajari, ingat mengingatkan, jamin menjamin dan jaga menjaga. Setiap orang Muhammadiyah wajib dididik sedemikian rupa dan muhammadiyah pun selaku organisasi dan gerekan, harus mengamalkan ukhuwah islamiah itu terhadap orang atau golongan islam lainnya.
  3. Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam.
  4. Selaku gerakan agama, Muhammadiyah bersifat keagamaan dalam segala tindakannya, sehingga mencerminkan wujud yang ideal. Lahir dari ajaran Islam yang murni. Muhammadiyah mengutamakan objeknya kepada masyarakat, karena itu bersifat kemasyarakatan. Dalam sifat ini kelihatan dengan jelas, bahwa Muhammadiyah bukan partai politik dan bukan pula sekedar organisasi sosial, tetapi suatu gerakan Islam yang akan merealisasi ajaran Islam itu agar benar-benar bermanfaat bagi pembangunan negara material dan mental spiritual.
  5. Selaku organisai yang anggota dan pimpinanny aterdiri dari manusia-manusia yang sadar sebagai warga Negara Hukum, Muhammadiah memandang segala hukum, undang-undang dan peraturan-peraturan negara sebagai suatu kenyataan yang berkekuatan hukum. Demikian Muhammadiyah menerima falsafah Negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan penegrtian yang mendalam.
  6. Muhammadiyah berjuang untuk perdamaian, suka damai, memperbanyak kawan, lapang dada, luas pandangan, sangat mengindahkan hukum dan undang-undang Negara serta peraturan pemerintah. Muhammadiyah selaku gerakan Islam amar ma’ruf wajib dalam pelaksanaannya dan tidak boleh ragu baik terhadap kaum dan anggotanya sendiri, ekpada tetangga dan golongan lain, kepada lawan dan kawan, ataupun ekpada pemerintah beserta para pemimpinnya. Seorang Muhammadiyah harus dapat menjadi suri tauladan yang baik.  
  7. Muhammadiyah perlu memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam tentang pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek kemasyarakatan, karena tanpa pengetahuan dan pengalaman segala usaha akan kurang berhasil atau tidak seperti yang diharpakn. Muhammadiyah harus aktif dalam perkembangan kemasyarakatan dan berpegang teguh kepada ajaran Islam di dalam berpandangan luas dan bersikap toleran.
  8. Ajaran Islam harus disiarkan seluas-luasnya. Ajaran Islma wajib diamalkan. Kepentingan ajaran Islam harus dibela, sehingga Muhammadiyah memandang bahwa kerjasama antar golongan-golongan Islam dalam hal ini adalah wajib.
  9. Muhammadiyah selaku gerakan yang mengamalkan perintah Allah dan Rosul-Nya mempunyai ide dan gambaran dan sifat-sifat masyarakat yang diperjuangkan untuk dicapai, yaitu masyarakat adil makmur diridhai Allah , dimana kesejahteraan hidup serta serta keadilan luas merata, lagi iman dan amal saleh menjadi inti dari segala perkembangannya, maka banyaklah persamaan-persamaan dan usaha antar pemerintah dan Muhammadiyah serta organisasi-organisasi lain yang berjuang dalam bidang kemakmuran dan kesejahteraan. Diperlukannya kerjasama untuk mencapainya.
  10. Muhammadiyah harus memiliki sikap adil dan korektif, yaitu tidak senang melihat sesuatu yang tidak semestinya dan ingin merubahnya kepaa yang lebih tepat adn lebih baik, emskipun mengenai diri sendiri.
  1. Kepada Siapa Kepribadian Muhammadiyah Kita Berikan

Seperti telah di uraikan di atas, bahwa kepribadian muhammadiyah ini pada dasarnya adalah memberikan pengertian dan kesadaran kepada warga kita, agar mereka itu tahu tugas kewajibannya, tahu sandaran atau dasar dasar beramal usahanya, juga tahu sifat sifat atau bentuk/irama bagaimana mereka bertindak/bersikap pada saat tugas kewajiban.

  1. Cara Memberikan atau menentukan

Tidak ada cara lain dalam memberikan atau menuntukan kepribadian muhammadiyah ini, kecuali harus dengan teori dan praktik penanaman, pengertian dan pelaksanaan.
  1. penandaan atau pendalaman pengertian tentang da’wah dan bertabligh.
  2. Menggembirakan dan memantapkan tugas berda’wah. Tidak merasa rendah diri dalam menjalankan da’wah; namun tidak memandang rendah kepada yang bertugas dalam lapangan lainnya (politik, ekonomi, seni budaya dll)
  3. Keadaan mereka – pra warga – hendaknya ditugaskan dengan tugas tugas tertentu, bukan dengan hanya sukarela. Bila perlu dilakukan dengan suatu ikatan, misalnya dengan perjanjian, dengan bai’at dll
  4. Sesuai dengan masa itu, perlu dilakukan dengan musyawarah yang sifatnya mengevaluasi tugas tugas itu.
  5. Sesuai dengan suasana sekarang, perlu pula dilakukan dengan formalitas yang menarik, yang tidak melanggar hokum hokum agama dan juga dengan memberikan bantuan logistic.
  6. Pimpinan cabang, ranting bersama sama dengan anggotanya memusyawarahkan sasaran sasaran yang dituju, bahan bahan yang perlu dibawakan dan memberi petihas petugas dengan kemampuan dan sasarannya.
  7. Pada musyawarah yang melakukan evaluasi, sekaligus dapat ditambah bahan bahan atau bekal yang diperlukan, yang akan dibagikan kepada warga selaku muballigh dan muballighot.


BAB III
PENUTUP

Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan Gerakan Islam. Maksud gerakanya ialah Dakwah Islam dan Amar Ma’ruf nahi Munkar yang ditujukan kepada dua bidang: perseorangan dan masyarakat. ‘kepribadian’ berasal dari kata ‘pribadi’ yang berarti manusia sebagai perseorangan. ‘Kepribadian’ (dengan imbuhan ke-an) berarti sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dengan orang lain atau bangsa lain.
Dengan demikian, perlu difahamkan kepada warga Muhammadiyah: apakah Muhammadiyah itu sebenarnya dan bagaimana cara membawa/ menyebarluaskannya. Menyebarkan faham Muhammadiyah itu pada hakekatnya menyebarluaskan Islam yang sebenar-benarnya; dan oleh karena itu, cara menyebarkannya pun kita perlu mengikuti cara-cara Rasulullah saw menyebarkan Islam pada awal pertumbuhannya.



DAFTAR PUSTAKA




Materi AIK III
Sundani Agus Tri, http://programbrsjhk2011umj.blogspot.com/2011/11/kepribadian-muhammadiyah-agus-tri.html,